Hari Pertama: Rambutan dan "Tahiti"
Di mana ada makanan, di situ ada tai.
Kami sekeluarga mengusahakan untuk makan bersama dalam 3x sehari. Bukan masalah makanannya, tapi tentang kebersamaannya. Untuk makanannya sih berbagai macam. Kadang makanan berat dan kadang makanan ringan. Intinya, kalau sudah waktunya makan, kami akan duduk melingkar untuk makan sambil berbincang.
Topik yang dibahas juga banyak. Tapi, topik yang paling sering dibahas—dan saya tidak mengerti mengapa selalu dibahas—adalah tentang tai.
Ya, tai. Terkadang benar-benar tentang itu, terkadang juga tidak berhubungan langsung dengan hal tersebut.
Di tahun 2026 ini saya baru makan rambutan. Ketika semua sudah berkumpul, tiba-tiba salah satu di antara kami menyeletuk. "Tadi aku lihat di solokan depan ada coklat-coklat. Itu lumpur atau tai ya?" Saya sudah terbiasa dengan pembahasan beginian, jadi saya hanya tersenyum. "Ehem ehem" saya berdeham "Rambutannya manis banget yaa." Itu adalah pesan secara tersirat bahwa "aku sedang makan buah, tolong jangan bahas yang begituan".
Setelah itu sih pembahasan kembali biasa lagi. Tapi apapun pembahasannya, saya pribadi bersyukur bahwa keluarga kami akrab satu sama lain.
Sebagai penutup, ada satu kata-kata bijak yang berhubungan dengan tahiti: "Jangan sering menghabiskan uang untuk makanan yang hanya jadi tai"
Sekian cerita hari ini. Selamat bersan-tai ria!
(Cerita ini bisa dibaca juga di akun instagram saya!)