Gara Gara Jogja jadi tau Aksara Sunda

Waktu itu cahaya matahari begitu terik. Panasnya sedikit membakar kulitku. Aku sedang berjalan-jalan bersama komunitas di Jalan Malioboro. Saat itu suasananya begitu ramai. Suara sandal yang diseret, riuh tawa orang, teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya, semua bercampur menjadi satu. Di jalan Malioboro, kami mengunjungi pasar-pasar dan tempat jajanan untuk membeli oleh-oleh. Terlihat ada nama suatu pasar, yaitu pasar Ngasem. Di bawah tulisan Latin "Ngasem", ada tulisan seperti huruf Tailan. Aku sudah pernah melihat huruf itu ketika magang di Warung Limo Papat.

Waktu itu aku bersama dua teman lainnya magang di Warung Limo Papat. Itu adalah warung makan. Kalau di luar Jawa itu namanya warteg alias warung Tegal. Kami beristirahat pada waktu zuhur. Ketika waktu istirahat tiba, kami akan pergi ke masjid untuk salat setelah itu baru kami mencari makan. Nama masjidnya Jogokariyan, sesuai dengan nama jalan di mana ia berada, jalan Jogokariyan.

Masjid ini unik. Selain jemaahnya yang ramai yang rasanya seperti salat jumat setiap hari, masjid ini menulis namanya dengan unik. Aku melihat ke salah satu dinding di masjid di mana nama "Masjid Jogokariyan" tertulis. Sepertinya tulisan itu berbahan alumunium, terlihat mengkilat jika disirami cahaya. Di tengah-tengahnya ada gambar minimalis masjid Jogokariyan. Dibawah gambar itu ada tulisan nama masjid Jogokariyan dalam bahasa Arab dan Latin. Kedua tulisan itu bisa kubaca dan kupahami, tetapi tulisan yang ada di atas logo masjid ditulis dalam bahasa yang tidak ku mengerti. Walaupun begitu, rangkaian tulisan itu menarik hati.
Kamu pernah melihat ulat? Ada yang bentuknya panjang ada juga yang pendek. Tulisan ini juga sama. Beberapa ukirannya tertulis kecil, beberapa lagi panjang, beberapa lagi seperti memakai selendang. Tulisan itu begitu indah, dengan lekukannya yang luwes seakan tulisan itu bersambung satu dengan yang lain. Tulisan ini sama sekali tidak bisa kumengerti, tetapi aku tertarik.
Jalan-jalan di Jogja sudah selesai, kami pun kembali ke rumah di kota masing-masing. Karena tulisan huruf tersebut berkesan, keesokan harinya aku mencarinya dengan kata kunci "huruf Jawa". Akhirnya aku mengetahui bahwa nama dari tulisan tersebut adalah Aksara Jawa. Aku melihat dan mempelajari sekilas tentang bagaimana aksara-aksara tersebut membentuk jadi kata, bagaimana peraturan menulis hurufnya, dan lainnya. "Ternyata budaya Jawa memiliki sebuah aksara yang seindah ini ya?" pikirku selama berselancar di internet, mencari informasi-informasi tentang aksara Jawa. "Gak cuman itu, aku sering banget melihat aksara ini di jalan." Aku mengingat kembali pengalamanku ketika berjalan-jalan di Jogja. Di pasar, gedung pemerintah, nama jalan, semuanya ada tulisan aksara Jawa. Aku tak pernah meilhat hal itu di Bandung.
Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran, "Kalau Jawa punya Aksara Jawa, apakah Sunda punya aksara Sunda?" Segera aku mengetikkan itu di browser. Mataku menatap ke layar dengan nanar. Ternyata ada! Aku segera membuka Wikipedia dan membacanya dengan singkat. Aku ternyata pernah melihat tulisan ini di plang jalan, tetapi aku tidak menyadarinya. Karena tertarik, aku pun mulai mempelajari aksara Sunda.
Belajar Aksara Sunda
Setelah tahu bahwa ada aksara Sunda, aku membuka situs Youtube dan mengetikkan beberapa kata kunci. Ternyata ada banyak video aksara Sunda. Aku pun membuka beberapa video mulai belajar. Selama beberapa hari aku pelajari secara perlahan. Mulai dari huruf dasarnya dulu, belajar modifier-nya, dan terakhir belajar angka.
Konsepnya ada huruf ngalagena, huruf swara, dan rarangkén. Sederhananya, ngalegena adalah huruf konsonan, swara adalah huruf vokal, dan rarangkén adalah modifier vokal seperti harokat dalam bahasa arab.
Di aksara Sunda itu ada 28 huruf. aksara Sunda itu mirip dengan huruf hiragana di bahasa Jepang. Di bahasa Jepang, satu huruf itu berbentuk satu suku kata, misalnya ka ki ku. Aksara Sunda pun sama. Yang paling lama aku pelajari adalah menulis huruf dan rarangkén karena banyak bentuknya.
Setelah menulis dan menonton video YouTube berkali-kali, aku pun menguasai dasarnya. Kini aku bisa menulis diary dengan aksara Sunda dan tidak akan ada yang tahu (kecuali keluargaku belajar aksara Sunda. Itu urusan lain hehe). Ini foto tulisan aksara sunda, tapi bukan dari diary:

Aku penasaran, apakah ada orang lain yang menggunakan aksara Sunda. Maka aku cari di Instagram dan menemukan ada komunitas aksara Sunda yang lokasinya di Jatinangor. Komunitas itu bernama (cari nama instagramnya). Waktu itu mereka membuka kelas gratis dengan tema aksara Sunda. Aku pun mencatat tanggalnya dan mengikuti kelas pada tanggal yang ditentukan.
Di kelas ada banyak hal yang aku pelajari. Ada beberapa pertanyaan yang terjawab ketika aku belajar di situ, yang tidak kutemukan ketika belajar autodidak di Youtube. Di kelas banyak orang yang mengikuti, tapi kebanyakan orang yang mengikuti adalah guru-guru, di mana mereka sendiri sudah tahu, tetapi mau belajar lagi. Aku senang bisa ikut kelas itu. Dari kelas itu, muncul satu pertanyaan dariku. Apakah orang-orang Bandung tahu dengan aksara Sunda?
Problematika
Ketika aku sedang kumpul dengan keluarga besar, aku bertanya kepada salah seorang sepupuku. "Ceu" aku memanggil sepupuku. Ceuceu adalah panggilan untuk sepupu yang lebih tua dalam bahasa Sunda. "kamu tau aksara Sunda?" "Ooh tau kak, ceuceu pernah belajar aksara Sunda pas kelas 10 di sekolah." Hazrina menjawab pertanyaanku. "Kalau disuruh baca, ceuceu bisa, tinggal liat hurufnya terus disamain aja sama list-nya" List yang dimaksud dia adalah list aksara Sunda yang di sebelahnya ada aksara Latin-nya. Dari pertemuan tersebut, aku menyimpulkan kalau pelajar Bandung tuh tau aksara Sunda, tetapi sekadar pelajaran aja dan tidak digunakan sehari-hari.
Aku pernah berpikir, "Kenapa gak ada yang pake di kehidupan sehari-hari ya? Bukannya aksara Sunda juga bagian dari bahasa Sunda?" Aku mencari tahu di google, melihat di sosial media, juga melakukan observasi. Dari itu, aku menyimpulkan beberapa alasan mengapa aksara Sunda tidak dipakai di kehidupan sehari-hari:
Tidak ada keperluan untuk itu.
Di sekitar kami, semua nama jalan, toko, iklan, tertulis dengan aksara Latin. Komunikasi secara tertulis menggunakan aksara Latin. Bahasa Indonesia juga menggunakan aksara Latin. Karena aksara Latin umum digunakan, maka secara bawaan pabrik orang-orang menggunakan itu.
Bahasa Arab masih kita baca dan tulis karena mayoritasnya beragama Islam. Kita membaca Al-Qur'an dalam bahasa Arab, membaca doa dalam bahasa Arab, dan mempelajari agamanya dalam bahasa Arab. Berbeda kasusnya dengan aksara Sunda. Ia tidak terpakai karena tidak ada keperluan untuk komunikasi tertulis dengan itu. Aksara Sunda juga tidak dirasa wajib untuk dipelajari karena "tidak ada gunanya" untuk kehidupan sehari-hari.
Masyarakat awam kebanyakan tidak tahu.
Yang tahu aksara sunda biasanya pelajar SMA karena mereka belajar aksara Sunda di kelas 10. Kalau mengingat lagi ke masa lalu, ketika aku masih SD, yang aku pelajari adalah nama-nama hewan dalam bahasa Sunda, dan itu pun ditulisnya dengan huruf Latin! Karena aksara Sunda tidak ada di kehidupan sehari-hari, maka kebanyakan orang Bandung tidak tahu. Tetapi anggaplah sekarang orang-orang Bandung sudah tahu dan mereka mau mencoba menggunakannya di hape. Ketika mereka membuka keyboard, mencarinya di Google Board kok tidak ada ya? Dan itu yang membuat aku menulis alasan terakhir:
Ribet untuk mengaksesnya di HP dan PC.
Untuk mengetik di hape, kalian perlu mencari dulu aplikasinya di Playstore, terus cari yang pas di antara puluhan aplikasi. Kalau untuk di laptop lebih ribet lagi. Kalian perlu men-download file aksara Sunda dari suatu situs, download aplikasi pihak ketiga, dan instal semuanya ke laptop. Karena keyboard laptop kalian huruf Latin, jadi perlu mengingat di mana letak huruf itu, gimana shortcut untuk nambahin modifier-nya, dll.
Solusi
Dari ketiga masalah itu, aku jadi mendapat ide. Aku mau membuat video edukasi aksara Sunda untuk remaja. Karena waktu itu di sekolah ada tugas untuk membuat proyek personal, aku ambil saja tema aksara Sunda ini.
Aku membuat berbagai video tentang aksara Sunda. Mulai dari sejarah sampai ke penggunaannya. Kalau kalian mau tonton kalian bisa cek sosial media aku nanti, tetapi aku mau jelasin dulu apa solusi yang aku pakai untuk mengatasi tiga masalah tadi.

Pertama dengan membuat konten edukasi. Karena target videoku untuk remaja, aku membuat konten edukasi yang mengikuti tren-tren yang dilihat oleh remaja di sosial media. Mulai dari pembuatan script, teknik pemgambilan video, sampai ke editingnya aku usahakan sesuai dengan tren sekarang.
Selain itu, aksara Sunda juga punya potensi di dunia desain. Aku membuat desain tipografi aksara Sunda di kertas. Aku terinspirasi dari jaket dan baju berhiaskan huruf kanji di kulitnya. Aku yakin kebanyakan orang tidak mengerti apa makna tulisan itu, tapi tetap mereka pakai karena keren. Aksara Sunda bisa kita pakai untuk desain di fashion. Kalau kalian perhatikan, huruf hurufnya banyak yang estetik dan sangat bisa menjadi desain. Contoh produk desain yang sudah ada sekarang adalah batik aksara Sunda, yang dibuat oleh teh Usi, guru aku di kelas aksara Sunda yang sudah aku bahas.
Aku juga sudah menerapkan aksara Sunda di halaman depan blog aku, tetapi aku hapus lagi karena hasilnya masih jelek. Aku perlu ningkatin skill kodingnya lagi agar bisa menampilkannya dengan lebih estetik. Kalau ada yang penasaran, foto pertama di artikel ini adalah desain untuk judul website aku. Keren, kan?
"Budaya itu jika diingat akan dikenang, jika diulik akan berkembang." Salman - 2026
Aksara Sunda itu adalah hal yang menarik bagi aku. Dan aku rasa semua orang bisa mempelajarinya termasuk kamu!
Jika sudah belajar, sebarkan! Jangan berhenti di kamu. Jangan lupa untuk adaptasikan ke dalam karya dan postinganmu. Kalian bisa jadikan aksara Sunda untuk tulisan rahasia di buku diary, desain baju, mural, atau apa pun itu.